Mengobati dan Pencegahan Hepatitis C
Jenis pengobatan yang akan dijalani
penderita hepatitis C tergantung kepada tingkat kerusakan hati, serta
genotipe virus yang diidapnya. Tetapi jika positif terdiagnosis mengidap
hepatitis C, Anda belum tentu membutuhkan langkah pengobatan.
Sebagian besar hepatitis C akut dapat
sembuh tanpa penanganan khusus. Dokter akan menganjurkan tes darah
untuk memantau apakah sistem kekebalan tubuh pasien berhasil memberantas
virus selama 12 minggu. Jika virus tetap ada, dokter biasanya akan
memberikan obat pegylatedinterferon selama enam bulan. Pegylatedinterferon adalah protein sintetis yang akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk menyerang virus.
Lain halnya dengan hepatitis C akut,
penderita hepatitis C kronis membutuhkan langkah penanganan dengan
obat-obatan sesegera mungkin. Selain pegylatedinterferon, pasien juga akan diberi obat antivirus ribavirin untuk
menghambat penyebaran virus hepatitis C dalam tubuh. Tetapi obat ini
tidak boleh diminum oleh ibu hamil karena dapat membahayakan bayi dalam
kandungannya.
Durasi untuk terapi kombinasi pegylatedinterferondan ribavirin tergantung
pada genotipe virus hepatitis C yang diidap pasien. Genotipe 1 termasuk
jenis virus hepatitis C yang sulit ditangani. Karena itu, rekomendasi
penggunaan obat-obatannya adalah selama satu tahun.
Sedangkan genotipe lain umumnya lebih
responsif terhadap terapi kombinasi sehingga durasi terapi akan lebih
singkat, yaitu enam bulan. Penderita hepatitis C genotipe ini juga
memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk sembuh.
Selama masa pengobatan, kondisi
pasien akan dipantau melalui tes darah secara berkala. Proses ini
biasanya dianjurkan setelah pengobatan selama satu dan empat bulan.
Sama seperti obat lain, kombinasi pegylatedinterferon dan ribavirin berpotensi menyebabkan efek samping. Misalnya tidak nafsu makan, anemia, demam, mual, rambut rontok, depresi, kecemasan, sulit berkonsentrasi, serta sulit mengingat sesuatu.
Hampir semua penderita hepatitis C
kronis yang menjalaninya mengalami lebih dari satu jenis efek samping.
Tetapi efek-efek samping tersebut umumnya akan berkurang seiring proses
adaptasi tubuh terhadap obat.
Para pakar kemudian berhasil menemukan dua jenis obat baru, boceprevir dan telaprevir. Keduanya adalah obat penghambat enzim (protease inhibitors). Obat ini menghalangi kinerja enzim yang dibutuhkan oleh virus untuk berkembang biak.
Penggunaan boceprevir dan telaprevir harus dikombinasikan dengan pegylated interferon dan ribavirin.
Kombinasi keempat obat ini direkomendasikan sebagai alternatif
pengobatan bagi penderita hepatitis C yang belum pernah menjalani
penanganan apa pun atau tidak responsif terhadap penanganan lain.
Penderita hepatitis C dianjurkan untuk menjalani pengobatan ini selama
satu tahun.
Boceprevir dan telaprevir juga dapat menyebabkan efek samping yang berbeda. Efek samping boceprevir meliputi demam, mual, tidak nafsu makan, serta insomnia. Sementara telaprevir dapat memicu efek samping anemia, diare, mual, muntah, dan ruam yang gatal.
Harap diingat bahwa jika pernah
mengidap dan sembuh dari hepatitis C, bukan berarti tubuh Anda memiliki
kekebalan sepenuhnya terhadap virus tersebut. Meski sudah pulih,
penderita hepatitis C harus berhati-hati karena tetap memiliki risiko
untuk kembali terinfeksi penyakit yang sama.
Komplikasi Pada Hepatitis C
Infeksi hepatitis C yang terus
berlangsung selama bertahun-tahun dan tidak diobati dapat menyebabkan
kerusakan hati yang berakibat fatal. Komplikasi-komplikasi tersebut
meliputi sirosis, kanker hati, serta gagal hati.
Jaringan parut pada hati atau sirosis. Komplikasi ini berkembang dalam waktu 20 tahun setelah pertama terinfeksi. Konsumsi minuman keras dan mengidap diabetes tipe 2 serta infeksi hepatitis lain juga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita sirosis. Gejala-gejala sirosismeliputi
kelelahan, mual, tidak nasfu makan, perut bagian atas kanan (lokasi
organ hati) terasa nyeri, sakit kuning, serta gatal-gatal yang hebat.
Sirosis yang parah dapat menyebabkan gagal hati dan kanker hati. Sekitar 20 persen penderitanya dapat mengidap gagal hati dan lima persen berisiko terkena kanker hati.
Gejala yang mengindikasikan gagal hati meliputi urin berwarna gelap, tinja yang cair dan berwarna pucat, rambut rontok, sering mengalami mimisandan gusi berdarah, serta muntah darah. Sementara kanker hati memiliki gejala seperti mual, muntah, sakit kuning, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Sirosis dan gagal hati hanya bisa
disembuhkan dengan prosedur transplantasi hati. Penanganan dengan
obat-obatan hanya bertujuan untuk mengurangi gejala dan mencegah sirosisbertambah parah.
Sementara kanker hati pada umumnya sulit disembuhkan. Penanganan dengan kemoterapi digunakan untuk memperlambat penyebaran kanker.
Selain ketiga penyakit di atas,
hepatitis C juga berisiko menyebabkan beberapa komplikasi lain. Misalnya
pembengkakan ginjal, hipotiroidisme, hipertirodisme, lichen planus,
mulut dan mata yang kering (akibat rusaknya kelenjar keringat, air
liur, dan air mata), resistensi terhadap insulin, serta gangguan empedu.
Pencegahan Hepatitis C
Hepatitis C belum bisa dicegah dengan
vaksinasi. Tetapi ada beberapa cara yang dapat kita ambil untuk
menurunkan risiko penularan, misalnya berhenti atau tidak menggunakan
obat-obatan terlarang dan hindari berbagi penggunaan barang-barang
pribadi yang mungkin terkontaminasi darah, misalnya alat cukur atau
sikat gigi.
Walau penyakit ini jarang menular
melalui hubungan seks, penggunaan alat pengaman seperti kondom dalam
hubungan seks tetap dapat menghindarkan Anda dari hepatitis C. Terutama
jika terjadi kontak dengan darah, misalnya seks anal atau darah menstruasi.
Pencegahan penyebaran virus hepatitis C juga penting dilakukan. Penderita hepatitis C dapat mencegah penularan dengan cara:
Membersihkan dan menutupi luka dengan plester tahan air.
Jangan menjadi pendonor darah.
Senantiasa membersihkan ceceran darah dengan obat pembersih rumah tangga.
Jangan berbagi jarum suntik serta barang-barang pribadi.
Penderita hepatitis C memiliki risiko
untuk tertular jenis hepatitis lain. Karena itu, dokter umumnya
menganjurkan mereka untuk menjalani vaksinasi guna mencegah hepatitis A dan B. Vaksin flu dan infeksi pneumokokus juga terkadang disarankan.
0 Response to "Mengobati dan Pencegahan Hepatitis C"
Post a Comment
Anda Sopan...!, Kami Pun Segan